Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Taqabbalallahu minna waminkum!
Menu Utama
Iklan







Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Siti Zubaidah, Bangkit Dari Kandang Kambing

Tak pernah terbayang dalam benak Siti Zubaidah (34) tinggal di kandang kambing. Yah, perempuan jebolan SMEA itu terpaksa harus tidur berhari-hari bersama keempat buah hatinya; Nur Aida (13), Ali Nursalam (9), Siti Sholihah (4), dan Nur Solahudin (2), di tempat bekas ternak kambing.

Ceritanya bermula akhir Juni 2008. Ketika itu Zubaidah diusir dari kontrakan karena tak mampu membayar uang sewa bulanan. Ia bingung mau tinggal dimana, sementara didompetnya sama sekali tak ada uang.

Seorang temannya lalu menawarkan tempat tinggal gratis. Tentu saja Zubaidah senang tak terkira. Namun setelah melihat tempatnya, seketika ia terkejut. Teman pengajiannya itu justru menunjukkan bekas kandang kambing yang lama tak terpakai. Di sekeliling tempat itu masih banyak pohon pisang dan kelapa. Temannya mengatakan, bila malam tiba, suasananya agak menyeramkan.

”Kok tega banget temen saya itu, yah. Masak saya suruh tinggal di sini. Ah, setelah saya pikir-pikir, daripada anak-anak saya tidur di pinggir jalan atau di kolong jembatan, masih mending di sini,” Zubaidah mengelus dada.

Zubaidah mengangkut barang-barang pindahannya sendirian. Begitu pula saat membersihkan kandang kambing yang kotor dan bau. Kondisi kandang kambing sebetulnya tak layak didiami. Kayu penyangganya terlihat sudah rapuh. Beberapa gentingnya terlepas. Dinding dan atapnya banyak yang bolong. Zubaidah kemudian menyumpalnya dengan plastik atau koran bekas. Lantainya masih tanah, bukan ubin.

”Anak-anak saya kalau malam suka nangis, nggak bisa tidur. ’Umi (ibu), itu ada kecoa,’ kata Sholihah ketakutan. ’Umiiii, itu di atas ada tikus,’ seru Ali. ’Awas umi, di bawah tikar ada cacing. Tuh kodoknya mau masuk,’ Nur Aida memperingatkan. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nangis sembari membesarkan hati anak-anak. Sabar ya nak, sebentar lagi Abi (bapak) pulang dari Kalimantan. Nanti kita cari kontrakan yang nyaman,” kenang Zubaidah lirih.

Hampir setiap malam Zubaidah mengaku tak bisa memejamkan mata sebelum keempat anaknya lebih dulu tidur. Bukan apa-apa, ia takut ada orang iseng yang ingin berbuat jahat. Sebab, tidak jauh dari kandang kambing banyak kontrakan yang ditempati para lelaki. Selain itu, semua perabotan rumah tangga milik Zubaidah ada di dalam tempat berukuran 3 x 3 meter itu, berdesak-desakan dengan anak-anaknya.

Zubaidah menuturkan, saat pindah ke kandang kambing berbarengan dengan keberangkatan Nurdin (35), suaminya, ke Kalimantan. Nurdin sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan air minum. Namun, akibat pemutusan hubungan kerja, Nurdin menganggur selama beberapa bulan. Praktis, hanya Zubaidah yang mencari nafkah. Ketika seorang kawannya menawarkan pekerjaan kuli bangunan di Kalimantan, Nurdin langsung menerimanya, meski per hari ia diberi upah bersih Rp. 20.000.  

Rupanya bukan hanya tinggal di kandang kambing yang membuat Zubaidah sedih. Dalam keadaan ekonomi yang benar-benar terpuruk, ia harus tetap mengeluarkan uang minimal Rp. 180.000 per bulan. Uang itu untuk membeli obat demi kesembuhan anak keduanya yang tengah sakit.
”Kalau saya tidak nebus obat, kondisi Ali akan semakin gawat,” cetusnya.

Penghasilan Zubaidah memang tak sebanding dengan pengeluarannya. Sebagai sales kue brownies, per hari rata-rata ia mengantongi Rp. 20.000. Sedangkan honornya sebagai pengajar di Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) tidak lebih dari Rp. 150.000 per bulan.

”Honor itu pun kadang dibayar oleh yayasan, kadang tidak. Jadi, sehari-hari saya ini selalu kekurangan. Saya dan anak-anak sudah biasa makan nasi pakai sayur doang. Pagi-pagi saya beli sayur Rp. 2.000 di pasar, terus sayur itu dimakan berlima untuk sehari,” ujarnya.

Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, Zubaidah mengajar di Paud hingga Dhuhur. Sekira pukul 14.00 WIB, ia mulai menjajakan kue brownies dengan mengendarai sepeda motor hingga kumandang Maghrib. Sebelum punya sepeda motor, ia membawa brownies dengan sepeda mininya. Kotak brownies ditaruh dijok belakang. Karena bagian depan sepedanya tak sanggup menahan beban belakang, Zubaidah pun kerap terjungkal.

”Sakit yang saya alami ketika terjatuh itu tak terasa bila saya ingat anak-anak di rumah. Mereka selalu menunggu saya di rumah, berharap saya pulang membawa uang banyak. Padahal, jualan brownies tak selamanya untung, tergantung pintar-pintar saya merayu calon pembeli. Pernah suatu hari saya hanya dapat keuntungan 700 rupiah, sementara anak-anak belum makan. Saya sedih sekali,” tukasnya.   

Menyadari penghasilan dari jualan kue, mengajar dan kiriman uang suami tak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, Zubaidah lantas menambah aktivasnya. Ia ikut MLM (multi level marketing) yang menjual produk herbal seperti Sari Kurma, Madu, Teh Rosella, Habbatus Sauda, dan lainnya. Penghasilannya secara perlahan bertambah. Ia pun bisa memberi uang jajan kepada anak-anaknya.

Seabrek kesibukan tak membuat Zubaidah lupa bersosialisasi. Saat ada pengajian di masjid atau majelis taklim, misalnya, ia berusaha hadir. Biasanya, begitu pengajian usai, selalu ada demo bekam. Dari situlah ia tertarik dan ingin bisa ilmu bekam.

“Tapi saya bingung, karena untuk mengikuti pelatihan terapis bekam dan beli alat bekam harus menyediakan uang 2,4 juta rupiah.  Wah, saya sibuk telpon sana, telpon sini nyari pinjaman. Beruntung ada seseorang yang mau nolong saya. Akhirnya saya bisa ikut acara itu dan mendapat izin untuk melakukan bekam. Saya bangga ketika dinyatakan lulus sebagai terapis bekam,” ucapnya sumringah.

Pekerjaan baru itu yang membuat Zubaidah hampir saban malam berkeliling dari satu masjid ke masjid lain, dari satu musola ke musola lain, dari satu majelis taklim ke majlis taklim lain di kawasan Jakarta Utara.

“Untuk bekam, satu orang infaqnya Rp. 10.000. Dalam semalam saya bisa membekam 10 pasien (perempuan). Keuntungan bersihnya Rp. 30.000-40.000 per malam. Nah, pernah ada orang yang ngasih infaq Rp. 1.000. Padahal untuk beli kapas saja, uang itu tidak cukup. Tapi saya senang, karena sudah bisa membantu orang lain. Selain itu, saya menjadi terapis bekam panggilan,” tutur Zubaidah bersemangat.  

Sejak itu, pelan-pelan keuangan Zubaidah mulai membaik. Setidaknya, wanita yang akrab disapa Umi Ali (ibunya Ali) itu sudah bisa mengontrak rumah petak lagi. Ia tinggalkan kandang kambing yang telah ditempatinya selama enam puluh hari.

Oktober 2008, Zubaidah bergabung dengan program pemberdayaan "Yang Muda Yang Mandiri" Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa di Warakas, Jakarta Utara. Bahkan, berkat bantuan dana dari Dompet Dhuafa pula, sebulan kemudian, perempuan kelahiran Jakarta itu bersama rekan-rekannya dapat membuka usaha pengobatan secara alami Griya Herba Nurus Syifa di Jl. Warakas IV Gg. 3 No. 44, Jakarta Utara.


”Dari dulu cita-cita saya memang ingin mandiri. Alhamdulillah Dompet Dhuafa ikut membantu mewujudkan impian saya. Sekarang saya sudah memiliki 6 tenaga kerja;  5 orang terapis bekam dan 1 orang sebagai penjaga toko yang merangkap bagian keuangan. Ke depan, saya ingin di setiap gang di Warakas ada gerai griya herba, supaya kalau ada orang yang sakit tidak harus berobat ke rumah sakit,” ujar Zubaidah yang kini dipercaya teman-temannya menjadi Bendahara Koperasi Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Warakas. (LHZ)






    
 

Diposting oleh
Diposting pada hari Selasa, 22 Desember 2009 09:47:19


<<-- Kembali


Sinergi & CSR


Pasar Modal Indonesia Bangun Sarana Air Bersih  di Kuningan dan Tangerang
Pasar Modal Indonesia Bangun Sarana Air Bersih di Kuningan dan Tangerang
Asistensi Koperasi Atsiri Wana Tiara
Asistensi Koperasi Atsiri Wana Tiara
Kiprah Bersama Lembaga Mendiang Anita Roddick
Kiprah Bersama Lembaga Mendiang Anita Roddick
4 Tahun Bersama JICA, Menggarap Desa
4 Tahun Bersama JICA, Menggarap Desa
Mendorong Kesejahteraan Warga Seputar PT Arun NGL
Mendorong Kesejahteraan Warga Seputar PT Arun NGL

HIGHLIGHT


 PENGUATAN USAHA MIKRO KECIL INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS KLUSTER MAKANAN RINGAN DI CIAMIS
PENGUATAN USAHA MIKRO KECIL INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS KLUSTER MAKANAN RINGAN DI CIAMIS
PENGEMBANGAN IRT MINYAK ATSIRI BERBAHAN SEREH WANGI BERBASIS KOMUNITAS PETANI LAHAN KERING
PENGEMBANGAN IRT MINYAK ATSIRI BERBAHAN SEREH WANGI BERBASIS KOMUNITAS PETANI LAHAN KERING
PEMBERDAYAAN PETANI DAN KELUARGANYA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KECIL BERBASIS SINGKONG
PEMBERDAYAAN PETANI DAN KELUARGANYA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KECIL BERBASIS SINGKONG
PROGRAM KPMS SURABAYA
PROGRAM KPMS SURABAYA
Empowerment Program for Cassava Farmers through Developing the Community Based-Agroindustries
Empowerment Program for Cassava Farmers through Developing the Community Based-Agroindustries
Pemberdayaan Pedagang Makanan di Kampus IPB
Pemberdayaan Pedagang Makanan di Kampus IPB
Economic Empowerment Program for Batik-Craftmen at Imogiri-Bantul, Yogyakarta
Economic Empowerment Program for Batik-Craftmen at Imogiri-Bantul, Yogyakarta
Pemberdayaan Ekonomi Korban Tsunami Ciamis
Pemberdayaan Ekonomi Korban Tsunami Ciamis
Gerakan Lima Kilogram Gula untuk Pendidikan
Gerakan Lima Kilogram Gula untuk Pendidikan
Pemulihan Ekonomi Situ Gintung
Pemulihan Ekonomi Situ Gintung
Telkomsel Berbagi Kemandirian
Telkomsel Berbagi Kemandirian
Ketahanan Pangan - Pemberdayaan Petani Ubi Jalar Kuningan
Ketahanan Pangan - Pemberdayaan Petani Ubi Jalar Kuningan
Pemberdayaan Kelompok Pengusaha Makanan Sehat
Pemberdayaan Kelompok Pengusaha Makanan Sehat
Micro Enterprise Empowering Program
Micro Enterprise Empowering Program

Woro-Woro


Protect Your System
Protect Your System
PELATIHAN PENDAMPING COMMUNITY DEVELOPMENT 2010
PELATIHAN PENDAMPING COMMUNITY DEVELOPMENT 2010

 
Spirit



Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar
Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar
“FACE TO FACE WITH MACHETE”
“FACE TO FACE WITH MACHETE”
SOCIAL ENTREPRENEUR : NOT ONLY GIVING THE HOOK
SOCIAL ENTREPRENEUR : NOT ONLY GIVING THE HOOK
BUILDING PARTNERSHIP FOR COMMUNITY STRENGTHENING
BUILDING PARTNERSHIP FOR COMMUNITY STRENGTHENING
SOCIAL WORKER VS SOCIAL ENTREPRENEUR
SOCIAL WORKER VS SOCIAL ENTREPRENEUR


Photo Gallery




Video Gallery


Klip Versi Batik Giriloyo
KLIP SPIRIT TAHU 2009
KLIP Jagung
Mursidi dari Desa Muara
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2008
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2007
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2008 Bag. II
Pemberdayaan Keluarga Pekerja Migran
Pemberdayaan Keluarga Pekerja Migran - bag II
IKRAR MITRA
Griya Industri Gula Kelapa Pacitan
Micro  Entreprise Empowering Program Lhokseumawe

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com