Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Taqabbalallahu minna waminkum!
Menu Utama
Iklan







Hit Counter

 
Versi CetakVersi Cetak
Lilis Ijali Sahidah: Berawal Dari Kremes

Usai menamatkan SMEA, Lilis Ijali Sahidah berangkat ke Jakarta dengan satu tujuan: bekerja. Ia menemui kawannya yang sudah lebih dulu kerja di sebuah pabrik ampelas. Kebetulan saat itu ada lowongan untuk bagian quality control. Lilis memasukan surat lamaran. Tak sampai seminggu, ada panggilan interview. Ia diterima.

“Duh…seneng banget bisa kerja. Padahal, kalau saya baca dikoran dan liat ditelevisi, banyak sarjana yang nganggur, sulit cari kerja,” Lilis berceloteh. 

Sehari-hari, tugas Lilis memastikan kualitas barang-barang yang akan dibawa keluar (baca dijual) sudah sesuai standar pabrik. Tak jauh dari tempat kerjanya, ada sebuah pabrik kaleng. Saban hari, para karyawan dua pabrik itu kerap bersua. Sesekali, antara gadis dan bujangannya saling bercuri pandang atau ledek-ledekan.

Ketika itu, ada seorang pria bernama Sahrudin yang selalu memperhatikan Lilis. Diam-diam Sahrudin menaruh hati. Rupanya Lilis pun menyambut, meski terkesan masih malu-malu kucing. Jadilah keduanya berkenalan, sering jalan berdua, lalu sepakat memadu kasih. Lilis jadi lebih semangat jika bekerja. Sedikit demi sedikit ia mulai rajin menabung.

“Buat nikah, biar nanti nggak terlalu membebani orang tua,” cetusnya tersenyum.
Singkat cerita, Lilis akhirnya menikah dengan Sahrudin, pria yang usianya lebih tua tujuh tahun. Tak lama kemudian, tempat kerja Lilis bangkrut gara-gara krisis moneter. Selanjutnya Lilis lebih banyak menghabiskan waktunya di kontrakan sembari menanti kelahiran jabang bayi.

Anak pertama Lilis lahir. Sahrudin memberinya nama Fitasari Nurazizah. Sayang, kebahagiaan rumah tangga muda ini harus terganggu dengan tutupnya pabrik kaleng. Sahrudin jadi pengangguran. Mereka makan dengan mengandalkan uang pesangon yang tak cukup sampai setahun. Berkali-kali Sahrudin melamar kerja, hasilnya selalu berujung penolakan.

”Mungkin karena ijazah saya cuma SMP,” Sahrudin angkat bicara.
Setiap hari kebutuhan hidup Lilis terus meningkat. Apalagi Fitasari mulai doyan jajan. Sementara pemasukannya nol. Lilis dan Sahrudin sama-sama nganggur. Lilis kembali bekerja, jadi pelayan warteg. Sahrudin yang bosan melamar kerja, akhirnya jadi marbot masjid. Sedangkan Fitasari, dibawa pulang ke Garut, diasuh neneknya, daripada tinggal di kontrakan tapi tidak diberi susu.
Lama-lama fisik Lilis tak kuat lantaran setiap hari harus kerja dari pagi hingga malam. Ia memilih keluar, kemudian jadi SPG (sales promotion girl) aksesoris di sebuah pusat perbelanjaan. Itu pun tidak bertahan lama.

”Saya capek, kerjanya berdiri terus, takut kaki varises,” Lilis beralasan.

Beberapa hari Lilis menganggur di kontrakannya di daerah Warakas, Jakarta Utara. Seorang tetangga yang memiliki usaha kue brownies, menawarkan pekerjaan sebagai sales. Lilis yang menyadari dirinya pernah belajar ilmu pemasaran sewaktu sekolah, kontan menerima tawaran itu. Ia butuh uang untuk makan dan bayar kontrakan. Apalagi, saat itu ia tengah mengandung anak keduanya.

Usai menjajakan kue brownies ke warung-warung dengan mengendarai sepeda mini, Lilis terkadang mampir ke tempat kakaknya yang punya usaha makanan kremes. Dari situ ia mulai belajar bikin kremes. Ia memperhatikan kakaknya memarut ubi putih sampai halus, lalu menggoreng dan mencampurkan gula merah. Setelah itu, kremes dicetak pakai tutup botol berbentuk bulat.

”Saya lihat kok bikinnya gampang, yah. Kata kakak, keuntungannya juga lumayan,” gumam Lilis.
Di rumah, Lilis mempraktekkan bikin kremes sendiri, dengan modal dari hasil jualan kue brownies. Mula-mula ia membuat satu toples. Isinya 25 biji. Kremes itu dititipkan di warung sebelah kontrakannya. Tak sampai seminggu, ternyata kremes habis terjual. Esok hari, ia bikin dua toples. Satu toples ditaruh di warung sebelah kontrakan, satu toples lagi dititipkan di warung belakang kontrakannya. Semuanya laku.

Hari berikutnya, Lilis memberanikan diri menjajakan kremes sembari memasarkan kue brownies. Rupanya makanan buatan Lilis mendapat respon cukup baik. Permintaan dari pemilik warung kian bertambah. Namun, ia tak sanggup memenuhi permintaan itu lantaran keterbatasan modal. Melalui kelompok dampingan Program Yang Muda Yang Mandiri di Warakas, Lilis memperoleh modal. Lilis menggunakannya buat beli bahan baku dan toples dua losin.

”Sekadang bisa memproduksi 16 toples kremes perminggu. Suami sudah ikut masarin. Alhamdulillah, keuntungan jualan kremes bisa saya kirim ke kampung dan cukup untuk jajan anak kedua saya (Mayafiona Sari),” tukasnya menutup perbincangan. (LHZ) 

Diposting oleh
Diposting pada hari Minggu, 31 Januari 2010 19:51:44


<<-- Kembali


Sinergi & CSR


Pasar Modal Indonesia Bangun Sarana Air Bersih  di Kuningan dan Tangerang
Pasar Modal Indonesia Bangun Sarana Air Bersih di Kuningan dan Tangerang
Asistensi Koperasi Atsiri Wana Tiara
Asistensi Koperasi Atsiri Wana Tiara
Kiprah Bersama Lembaga Mendiang Anita Roddick
Kiprah Bersama Lembaga Mendiang Anita Roddick
4 Tahun Bersama JICA, Menggarap Desa
4 Tahun Bersama JICA, Menggarap Desa
Mendorong Kesejahteraan Warga Seputar PT Arun NGL
Mendorong Kesejahteraan Warga Seputar PT Arun NGL

HIGHLIGHT


 PENGUATAN USAHA MIKRO KECIL INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS KLUSTER MAKANAN RINGAN DI CIAMIS
PENGUATAN USAHA MIKRO KECIL INDUSTRI RUMAH TANGGA BERBASIS KLUSTER MAKANAN RINGAN DI CIAMIS
PENGEMBANGAN IRT MINYAK ATSIRI BERBAHAN SEREH WANGI BERBASIS KOMUNITAS PETANI LAHAN KERING
PENGEMBANGAN IRT MINYAK ATSIRI BERBAHAN SEREH WANGI BERBASIS KOMUNITAS PETANI LAHAN KERING
PEMBERDAYAAN PETANI DAN KELUARGANYA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KECIL BERBASIS SINGKONG
PEMBERDAYAAN PETANI DAN KELUARGANYA MELALUI PENGEMBANGAN USAHA KECIL BERBASIS SINGKONG
PROGRAM KPMS SURABAYA
PROGRAM KPMS SURABAYA
Empowerment Program for Cassava Farmers through Developing the Community Based-Agroindustries
Empowerment Program for Cassava Farmers through Developing the Community Based-Agroindustries
Pemberdayaan Pedagang Makanan di Kampus IPB
Pemberdayaan Pedagang Makanan di Kampus IPB
Economic Empowerment Program for Batik-Craftmen at Imogiri-Bantul, Yogyakarta
Economic Empowerment Program for Batik-Craftmen at Imogiri-Bantul, Yogyakarta
Pemberdayaan Ekonomi Korban Tsunami Ciamis
Pemberdayaan Ekonomi Korban Tsunami Ciamis
Gerakan Lima Kilogram Gula untuk Pendidikan
Gerakan Lima Kilogram Gula untuk Pendidikan
Pemulihan Ekonomi Situ Gintung
Pemulihan Ekonomi Situ Gintung
Telkomsel Berbagi Kemandirian
Telkomsel Berbagi Kemandirian
Ketahanan Pangan - Pemberdayaan Petani Ubi Jalar Kuningan
Ketahanan Pangan - Pemberdayaan Petani Ubi Jalar Kuningan
Pemberdayaan Kelompok Pengusaha Makanan Sehat
Pemberdayaan Kelompok Pengusaha Makanan Sehat
Micro Enterprise Empowering Program
Micro Enterprise Empowering Program

Woro-Woro


Protect Your System
Protect Your System
PELATIHAN PENDAMPING COMMUNITY DEVELOPMENT 2010
PELATIHAN PENDAMPING COMMUNITY DEVELOPMENT 2010

 
Spirit



Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar
Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar
“FACE TO FACE WITH MACHETE”
“FACE TO FACE WITH MACHETE”
SOCIAL ENTREPRENEUR : NOT ONLY GIVING THE HOOK
SOCIAL ENTREPRENEUR : NOT ONLY GIVING THE HOOK
BUILDING PARTNERSHIP FOR COMMUNITY STRENGTHENING
BUILDING PARTNERSHIP FOR COMMUNITY STRENGTHENING
SOCIAL WORKER VS SOCIAL ENTREPRENEUR
SOCIAL WORKER VS SOCIAL ENTREPRENEUR


Photo Gallery




Video Gallery


Klip Versi Batik Giriloyo
KLIP SPIRIT TAHU 2009
KLIP Jagung
Mursidi dari Desa Muara
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2008
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2007
REVITALISASI POSYANDU DI TANGERANG 2008 Bag. II
Pemberdayaan Keluarga Pekerja Migran
Pemberdayaan Keluarga Pekerja Migran - bag II
IKRAR MITRA
Griya Industri Gula Kelapa Pacitan
Micro  Entreprise Empowering Program Lhokseumawe

 

 
Designed & Developed By Solusi-IT.Com